Dana Khusus Riset Dasar Mulai Beroperasi

Screenshot_2016-04-02-06-55-10-1

J GALUH BIMANTARA
30 Maret 2016
JAKARTA, KOMPAS — Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia atau DIPI resmi beroperasi mulai Rabu (30/3/2016). DIPI merupakan lembaga mandiri di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia yang menyediakan pendanaan berkelanjutan khusus riset dasar atau fundamental, yang selama ini kalah pamor dibandingkan riset terapan.

Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro berharap, peresmian DIPI menjadi pendorong para lulusan pendidikan tingkat lanjut di universitas ternama luar negeri melanjutkan risetnya di Indonesia. “Masalahnya, doktor-doktor yang ingin melanjutkan riset kelas dunia di Indonesia menghadapi kenyataan bahwa dana riset terbatas dan skema pendanaan rumit,” katanya di sela-sela peresmian DIPI di Jakarta, Rabu (30/3/2016).

Bambang pun sudah mengalami sulitnya menjadi peneliti semasa mengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Selain harus fokus dengan substansi penelitian, ia juga disibukkan oleh hal-hal administrasi, termasuk mengumpulkan nota belanja dan fotokopi guna laporan pertanggungjawaban dana hibah riset. Karena itu, ia saat itu lebih banyak mengambil pekerjaan sebagai konsultan bagi klien dibandingkan penelitian karena lebih menguntungkan.

content

Untuk itu, Bambang ingin DIPI membuat riset bergairah di Indonesia dan diarahkan agar juga bermanfaat bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Berkembangnya riset akan mendukung peningkatan daya saing Indonesia karena pertumbuhan ekonomi didasari oleh inovasi.

DIPI memberikan hibah penelitian dengan menyeleksi proposal yang masuk dari para peneliti, berdasarkan kualitas, orisinalitas gagasan, dan kecakapan penelitinya. Bidang penelitian tidak dibatasi berdasarkan disiplin ilmu, tetapi punya delapan area penelitian, yaitu identitas, keragaman, dan budaya; kepulauan, kelautan, dan sumber daya hayati; kehidupan, kesehatan, dan nutrisi; air, pangan, dan energi; bumi, iklim, dan alam semesta; bencana dan ketahanan masyarakat terhadap bencana; material dan sains komputasi; serta ekonomi masyarakat dan tata kelola.

Dengan demikian, baik peneliti ilmu eksakta maupun sosial berkesempatan untuk mendapatkan pendanaan. Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Sangkot Marzuki menuturkan, untuk proposal riset yang lolos, DIPI akan memberikan pendanaan penelitian tahun jamak, yang pengelolaannya terpisah dari siklus tahunan anggaran negara. Hal ini diharapkan memotivasi peneliti untuk adu kreativitas mengajukan gagasan-gagasan terbaik mereka, selain melakukan penelitian yang sudah menjadi program institusi masing-masing.

Selama ini, riset dasar cenderung ketinggalan dibandingkan riset terapan. Belanja riset dasar perguruan tinggi negeri Indonesia pada 2010 hanya 23,02 persen, sedangkan riset terapan 56,62 persen. Jumlah proposal riset dasar yang didanai pemerintah juga turun, dari tidak lebih dari 150 judul pada 2007 menjadi tidak lebih dari 50 judul tahun 2012 (Kompas, 23/4/2015).

Sangkot menambahkan, pembentukan DIPI mendapat dukungan dari negara sahabat, yaitu Amerika Serikat melalui United States Agency for International Development (USAID), Australia melalui Knowledge Sector Initiative, serta Inggris melalui Newton Fund. Terkait hal itu, Bambang ingin keberadaan DIPI tidak hanya mendukung pendanaan riset, tetapi juga meningkatkan kolaborasi riset dengan mitra luar negeri.

Peresmian DIPI dilanjutkan dengan Diskusi “Promoting Scientific Culture of Excellence”, membahas peran penting ilmu pengetahuan dalam memajukan bangsa. Narasumber yaitu anggota AIPI Prof Emil Salim, US Science Envoy to Indonesia 2010-2012 Bruce Alberts, US Science Envoy for the Ocean 2014-2016 Jane Lubchenco, dan Foreign Secretary of the Australian Academy of Science Prof Cheryl Praeger.

Baca juga :

Pembiayaan Riset Berkelanjutan

Peneliti Sambut DIPI

Website DIPI