Rekor Studi S2-S3 di Korsel Terpecahkan oleh Mahasiswa RI

10 August 2012 | 12:58

 Evi Cardalola di kompasiana

13445394141775804640

Indonesia patut berbangga. Salah satu putra terbaik negeri ini , seorang mahasiswa program kombinasi master-doktor di University of Science and Technology(UST) bidang biopolimer, berhasil memecahkan rekor menamatkan studi S2-S3 tercepat di Korsel dalam tempo 3,5 tahun. Padahal normalnya, waktu yang dibutuhkan untuk studi tersebut minimal ditempuh dalam 4 tahun.

Hal ini tentu saja  dapat diraih tak lepas dari semangat, kegigihan, dan ambisi yang kuat. Semua melalui proses yang panjang dan penuh liku-liku. Adalah Purba Purnama, seorang pria kelahiran 10 Juni 1982 yang berasal dari keluarga sederhana di sebuah desa bernama Desa Kagok, Kec. Slawi, Kab. Tegal. Ayahnya hanya seorang karyawan sebuah perusahaan perikanan, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga biasa yang membantu perekonomian keluarga dengan membuka warung kecil-kecilan di depan rumah mereka.

Semasa sekolah hingga menyelesaikan Sekolah Menengah Umum, di rumahnya masih belum terdapat listrik. Sebuah lampu petromakslah yang setia menemani kesehariannya saat belajar di waktu malam.

Kemandirian, pendidikan spiritual yang ditanamkan kedua orangtuanya, membuat dirinya tumbuh menjadi sosok pemuda yang giat, pantang menyerah, dan taat beribadah. Pun menjelang malam selalu disempatkannya bermunajat melaksanakan shalat tahajud memohon kepada-Nya. Subhanallah..!

Sekalipun masa kecilnya lebih banyak dihabiskan dengan membantu orangtuanya ke pasar, membeli bahan keperluan warung, mencari kayu bakar, membeli minyak tanah, hingga menyapu, mengepel dll tak membuatnya menyesali semua itu.

Setelah menamatkan Sekolah Menengah Umum, melalui program PBUD (Penerimaan Bibit Unggul Daerah) dia direkomendasikan melanjutkan pendidikan ke Universitas Indonesia. Namun hasilnya gagal, karena saat itu quota yang tersedia hanya untuk 1 orang dari 3 orang yang direkomendasikan. Tak putus asa sampai di situ, dia kembali mencoba dengan mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) dan berhasil diterima di Jurusan Kimia Universitas Indonesia.

Ternyata perjuangan belum sampai disitu. Baru saja memasuki akhir semster 1, cobaan datang menghampiri keluarganya. Ibunya mendapat kecelakaan hingga patah tulang paha, yang menyebabkan beliau cacat dan akhirnya sang ayah harus pensiun dini agar dapat merawat dengan baik. Imbasnya, biaya kuliah dan kebutuhan hidupnya di Jakarta tak lagi dapat dipenuhi ayahnya. Namun tekad yang kuat, keinginan meraih kesuksesan, membuatnya memutar otak mencari jalan keluar. Untunglah dia berhasil menemukan solusi mengatasi masalah tersebut dengan bekerja menjadi guru privat, disamping menawarkan jasa fotokopi pada teman-temannya di kampus dan meminta keringanan biaya perkuliahan di tempatnya menimba ilmu.

Dengan kondisi seperti itu, membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan, dia masih dapat mempertahankan nilainya tetap baik. hal itu dibuktikannya dengan beberapa kali memperoleh beasiswa mulai dari Etos Dompet Dhuafa, Indofood, Peningkatan Potensi Akademik, hingga Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS).

Lulus S1, dia mencoba mencari program-program beasiswa keluar negeri untuk melanjutkan studi. Berulangkali berusaha tapi nasib baik ternyata belum berpihak kepadanya. Berbagai kendala tersebut membuat dirinya ‘banting setir’ ke dunia industri selama 5 tahun. Tapi keinginan yang begitu kuat mendorongnya kembali untuk mencoba. Hingga kesempatan itu datang juga melalui Korea Institute of Science and Technology (KIST) yang memberikan kepercayaan padanya meneruskan pendidikan di sana.

Selama studi, selain aktif di berbagai organisas seperti Perhimpunan Pelajar Indonesia di Korea (Perpika), kepala gugus inovasi dan teknologi Ikatan Ilmuwan Internasional Indonesia (I-4), aktif dalam kegiatan bersama Pioneers for Advancement of Technology in Asia-Afrika (PATA). Dia juga berhasil mempublikasikan 7 penelitiannya di jurnal-jurnal internasional bidang biopolimer, 2 Korean patent, dan 1 US patent.

Kini semua kerja keras dan perjuangan itu terbayar sudah. Dengan berbagai penghargaan yang diterimanya selama menjalankan pendidikan, mendapat Penghargaan Academic Exellence Award dari KIST, serta diberi kepercayaan melanjutkan jenjang post-doctoral di Laboratorium Biomaterial Research Center, KIST. Sosok Purba Purnama patut menjadi teladan bagi pemuda-pemudi bangsa dalam mengisi kemerdekaan. Dan bertepatan dengan HUT RI ke-67 tanggal 17 Agustus 2012 nanti, dirinya akan diwisuda oleh pihak UST di Auditorium Pusat UST, Daejeon. Sungguh luar biasa!

Semoga kisah ini dapat menginspirasi bagi  semua untuk terus bersemangat meraih kesuksesan. “Kondisi keterbatasan jangan sampai melemahkan, tetapi jadikan keterbatasan yang kita miliki sebagai cambuk untuk memberikan kontribusi terbaik kepada diri kita, sesama dan bangsa kita tercinta, INDONESIA.”

* Sumber tulisan: Detikcom dan berbagai sumber lainnya*

Salam Semangat!!!