Mendikbud Hadiri The Japan-Indonesia Rector’s Conference

Oleh Firman Hidayat – 16 November 2012

Nagoya, 16 November 2012- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh didampingi Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Djoko Santoso menghadiri The Japan-Indonesia Rector’s Conference bertempat di Nagoya University, Nagoya Jepang.

Pertemuan yang berlangsung dari tanggal 15-16 November 2012 ini menghadirkan Presiden Ketiga Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie dan Wakil Presiden Toyota Motor Corporation Nobuyori Kodaira sebagai Keynote Speaker. Bapak B.J Habibie berbicara tentang Bilateral Cooperation for Sustainable Development and Growth, sedangkan Mr. Nobuyori Kodaira berbagi rahasia Toyota Motor Corporation dengan tema Environmental Changes and Global Society Sorrounding the Automobile Industry. Turut Hadir dalam pertemuan ini Wakil Perdana Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi Jepang Hirofumi Ryu dan Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang Muhammad Lutfi.

Pertemuan ini merupakan tonggak sejarah, dimana untuk pertama kalinya sejumlah besar pimpinan perguruan tinggi dari kedua belah negara bertemu dalam rangka menjalin many to many collaboration. Delegasi pimpinan perguruan tinggi Indonesia berasal dari 28 perguruan tinggi Indonesia dengan Rektor Universitas Hasanuddin Idrus Paturusi bertindak sebagai kepala delegasi, adapun dari pihak Jepang diwakili pimpinan perguruan tinggi dari 32 perguruan tinggi yang dipimpin oleh Presiden Nagoya University Michinari Hamaguchi. Pertemuan bersejarah ini mengambil tema A Dialogue for Partnership.

Mendikbud menyambut baik penyelenggaraan konferensi ini. Dalam sambutannya, Mendikbud menyatakan bahwa pertemuan ini berlangsung di waktu, tempat dan negara yang tepat. Saat ini seluruh mata dunia melihat Asia sebagai penggerak utama ekonomi dunia, dimana Jepang dan Indonesia termasuk di dalamnya. Pemilihan Jepang sebagai lokasi konferensi pun tidak lepas dari peran jepang selama 15 tahun belakangan ini yang hadir sebagai motor penggerak perkembangan Asia. Jepang telah menjadi inspirasi bagi negara Asia lainnya, baik dari bidang Pendidikan, Ekonomi dan bidang lainnya.

Kerjasama di bidang pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, antara kedua negara telah berlangsung sejak lama, baik government to government collaboration maupun university to university collaboration, namun kerjasama yang melibatkan banyak perguruan tinggi Indonesia-Jepang (many to many collaboration ) baru terjadi dalam konferensi kali ini. Mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember ini menyatakan bahwa pertemuan ini merupakan strategi yang efektif dalam membangun kerjasama pendidikan tinggi secara masif antar kedua negara, baik kerjasama Program Beasiswa bagi mahasiswa dan dosen, Sandwich Program, maupun Program Penelitian.

Mendikbud berpesan agar delegasi dari kedua negara dapat menemukan formula kerjasama pendidikan tinggi antar banyak perguruan tinggi  yang tepat selama pertemuan ini. Sehingga jaringan kerjasama pendidikan tinggi tersebut dapat berfungsi sebagai sarana diplomasi antara kedua negara, membangun rasa saling menghargai  dan saling menguntungkan baik dari sudut pandang ekonomi, sosial dan budaya.

Mendikbud Berdialog dengan PPI Jepang

Seusai menghadiri konferensi, Mendikbud bersama Dirjen Dikti berkesempatan bertatap muka dan berdialog dengan perwakilan mahasiswa Indonesia yang tengah menuntut ilmu di berbagai perguruan tinggi di Jepang.

Kepada para mahasiswa, Mendikbud menyatakan bahwa saat ini pemerintah membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Melalui Bantuan Biaya Pendidikan Bidikmisi, calon mahasiswa yang berasal dari keluarga tidak mampu, dapat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi tanpa pungutan biaya apapun, di perguruan tinggi mana saja, serta program studi apa saja. Saat ini terdapat total 90 ribu mahasiswa penerima Bidikmisi yang menuntut ilmu di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Jumlah penerima bantuan ini akan bertambah dari tahun ke tahun, seiring pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Akses ke perguruan tinggi bagi calon mahasiswa yang berasal dari daerah 3T ( Tertinggal,Terdepan dan Terluar) juga di perluas. Hal ini dilakukan dengan beberapa cara yaitu, pendirian perguruan tinggi negeri baru di daerah 3T seperti daerah perbatasan, pulau terluar dan daerah tertinggal. Pendirian perguruan tinggi disetiap provinsi di Indonesia. Langkah yang lain adalah dengan melakukan penegerian perguruan tinggi swasta di daerah tersebut.

Pada kesempatan ini, Mendikbud juga menyebutkan bahwa pemerintah memiliki agenda untuk memberikan beasiswa program Pasca Sarjana bagi masyarakat umum, dimana saat ini beasiswa dari Dikti baru diperuntukkan bagi pendidik dan tenaga kependidikan di perguruan tinggi.Rencananya program ini akan diluncurkan pada tahun 2014, dan sumber pembiayaan beasiswa ini berasal dari Dana Abadi Pendidikan.