Penjaminan Mutu PTN dan PTS Rendah

Akreditasi Perguruan Tinggi Belum Banyak Dipahami

Rabu, 11 September 2013

JAKARTA, KOMPAS —  Mutu perguruan tinggi negeri ataupun swasta perlu ditingkatkan. Pada saat yang sama, sedikit perguruan tinggi yang memiliki sistem penjaminan mutu internal mengacu Ditjen Pendidikan Tinggi dan sistem penjaminan mutu eksternal mengacu Badan Akreditasi Nasional PT.

”Mutu perguruan tinggi (PT) memang masih memprihatinkan. Karena itu, penjaminan mutu mulai jadi fokus untuk ditingkatkan, baik internal maupun eksternal,” kata Sekretaris Ditjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Patdono Suwigno, di Jakarta, Selasa (10/9).

Persoalan mutu itu mengemuka dalam lokakarya ”Memperbaiki Persiapan Akreditasi Program Studi dan Institusi” yang diadakan USAID-Higher Education Leadership Management Project, kemarin. Lokakarya diikuti 25 PTN dan PTS mitra USAID/ HELM dari berbagai daerah.

Patdono mengatakan, belum ada keharmonisan penjaminan mutu internal di berbagai PT yang mengacu panduan Ditjen Pendidikan Tinggi dengan penjaminan mutu eksternal dengan instrumen buatan BAN-PT. ”Namun, dalam waktu dekat sudah akan disahkan standar nasional pendidikan tinggi. Nanti, semua instrumen penjaminan mutu punya acuan,” katanya.

Dari 3.200 PTS, baru sekitar 200 PTS yang punya sistem penjaminan mutu internal. Adapun jumlah PTN ada 97.

Sesuai namanya, institusi penjaminan mutu bertugas menentukan kualitas sebuah perguruan tinggi, termasuk kualitas pengajar. ”Penjaminan mutu internal penting,” ujarnya.

Persoalan anggaran

Anggota BAN-PT, Syamsul Amar, mengatakan, penjaminan mutu eksternal BAN-PT bergantung pada anggaran pemerintah. Padahal, mengacu UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, akreditasi program studi dan institusi perguruan tinggi wajib sebagai syarat bisa mengeluarkan ijazah secara legal.

Akibat anggaran yang terlambat, tahun ini alokasi akreditasi program studi hanya untuk 4.000 program studi. Sementara akreditasi institusi perguruan tinggi untuk 30 PT per tahun.

”Namun, akreditasi institusi PT belum banyak dipahami dan diketahui. Minat PTS juga masih minim. Sampai kini di bawah 20 PT mendaftar, padahal Oktober harus selesai,” ujar Syamsul.

Menurut dia, jika tiap PT melaksanakan penjaminan mutu internal dan mengevaluasi diri, sebenarnya hal itu mempermudah proses akreditasi. Sayang, penjaminan mutu internal di PT juga belum optimal. Sebanyak 30-40 persen borang yang diajukan PT ke BAN-PT tidak memenuhi syarat karena tak serius dalam menjalankan penjaminan mutu.

Akreditasi program studi dan PT penting sebagai pertanggungjawaban pada masyarakat dalam melaksanakan PT sesuai standar nasional. Dalam proses akreditasi, BAN-PT menilai tujuh standar, yakni visi, misi, tujuan, sasaran, dan strategi pencapaian; tata pamong, kepemimpinan, dan sistem pengelolaan; mahasiswa dan lulusan; sumber daya manusia; kurikulum, pembelajaran, dan suasana akademik; pembiayaan, sarana-prasarana, dan sistem informasi; serta penelitian, pelayanan/pengabdian pada masyarakat, dan kerja sama.

Remy Rohadian dari USAID/ HELM mengatakan, dari 25 mitra HELM, lebih dari setengah belum melaksanakan akreditasi institusi dalam berbagai peringkat. Hanya dua PT yang meraih akreditasi A. (ELN)

Sumber : Kompas Cetak terbitan 11 September 2013