Tingkatkan Publikasi Ilmiah
Ditargetkan 18.000 Publikasi

Screenshot_2016-07-09-18-26-22-1

20 Desember 2016

JAKARTA, KOMPAS — Produktivitas guru besar dan doktor di Indonesia tergolong rendah dalam hal publikasi hasil riset di jurnal ilmiah. Publikasi ilmiah Indonesia secara internasional sekitar 9.000 publikasi, sedangkan Malaysia mencapai 23.000 publikasi, Singapura 16.000-17.000 publikasi, dan Thailand 13.000 publikasi.

Jumlah 9.000 publikasi ilmiah itu tidak mencapai separuh dari sekitar 31.000 guru besar dan doktor yang dimiliki Indonesia.

“Permasalahan terbesar dalam menulis makalah berlevel internasional ialah kemutakhiran topik,” kata Guru Besar Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB) Djoko Santoso ketika dihubungi dari Jakarta, Senin (19/12). Menurut dia, menerbitkan makalah di jurnal internasional merupakan salah satu kriteria perguruan tinggi atau lembaga penelitian yang bermutu dunia.

Djoko, mantan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, menjelaskan, mayoritas makalah dari Indonesia terpaku pada aspek prosedural. Selain itu, banyak topik bukan penemuan terbaru di bidang ilmu bersangkutan.

“Makalah yang diterbitkan di jurnal berlevel Scopus, misalnya, merupakan yang terbaik dibanding seluruh makalah pada topik yang sama dari seluruh dunia. Pembahasan yang kekinian sangat penting,” ujar Djoko.

Menurut data Scopus, pangkalan data jurnal ilmiah yang diakui secara internasional, pada tahun 2015, ada 22 jurnal dari Indonesia yang bertaraf global. Jurnal-jurnal itu antara lain diterbitkan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia, Universitas Brawijaya, ITB, dan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Dalam sebuah rapat koordinasi di Jakarta, beberapa waktu lalu, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir mengatakan, mulai tahun depan, Kemristek dan Dikti mewajibkan guru besar membuat satu publikasi ilmiah tiap tahun dan doktor minimal dua tahun sekali di jurnal ilmiah bereputasi internasional. Kewajiban ini dikaitkan dengan evaluasi pada berbagai tunjangan yang diberikan negara kepada guru besar dan doktor (lektor kepala) di perguruan tinggi.

Dengan kewajiban ini, diharapkan publikasi dari Indonesia meningkat dua kali lipat menjadi 18.000 publikasi per tahun.

Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Fredrik L Benu siap mendukung kebijakan pemerintah untuk mendorong produktivitas guru besar. Di Undana, ada 24 guru besar. “Nanti ada dukungan anggaran dari kampus untuk membantu dosen agar produktif,” ujarnya.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Ganjar Kurnia mengemukakan, kebiasaan menulis sudah mulai berkembang meskipun perlahan. Salah satu penyebabnya adalah adanya insentif dari pemerintah berupa hibah kepada dosen untuk melakukan penelitian. Apabila penelitian tersebut diterbitkan di jurnal bertaraf dunia, akan ada insentif yang lebih besar.

“Namun, kita tidak boleh menulis hanya karena ingin mendapat hibah. Penelitian yang dilakukan harus tetap relevan dan bisa diterapkan kepada pembangunan nasional,” kata Ganjar.

(DNE/ELN)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 Desember 2016, di halaman 12 dengan judul “Tingkatkan Publikasi Ilmiah”.